Posted by: yunisaputro | January 4, 2011

Bencana Merapi dan Mitos yang Meletus Di Dalamnya

November kelam Yogyakarta masih menyelimuti benak dan pikiran kita. Ya, bulan November 2010, Daerah Istimewa Yogyakarta luluh lantak akibat amukan wedus gembel. Gunung merapi terdahsyat di Asia mulai mengepulkan asap dapurnya.Dalam hitungan hari, status gunung merapi terus meningkat, dari satatus siaga, wapada dan meningkat drastis ke status awas. Jauh hari semenjak ditetapkannya status merapi oleh badan pusat vulkanologi, pemerintah Yogyakarta telah menghimbau warga masyarakat sekitar lereng gunung merapi untuk segera mengungsi, hal ini dilakukan mengingat bahaya meletusny merapi di beberapa tahun silam sangat banyak menelan korban. Meskipun telah banyak himbauan dari pemerintah setempa, warga lereng merapi tetap enggan meninggalkan tanah kelahirannya.

Kenyamanan serta ketentraman menjadi alasan utama di samping alasan menjaga harta benda yang dimiliki ataupun tidak punyanya sanak saudara di luar daerah. Keasrian Yogyakarta masih sangat kental dirasakan oleh warganya, khususnya mereka yang berada di sekitar gunung merapi. Mbah Maridjan misalnya, beliau tetap enggan meninggalkan kampong halamannya yang sudah bertahun-tahun membersamai perilaku merapi. Menurutnya, aktivitas merapi saat ini merupakan aktivitas yang mencerminkan proses keseimbangan alam. Sehingga, merapi akan tetap aman-aman saja. Baginya, “hidup matiku untukmu merapi”, mengutakan pendirian Mbah Maridjan untuk tetap menghuni rumahnya, meskipun telah dibujuk oleh sang istri maupun warga sekitar.

Sekarang, merapi benar-benar membuktikan keganasannya. Melalui semburan wedus gembelnya, dengan cepat menembus pekat malam dan dengan seketika memangsa siapapun yang berada di depannya.  Semua orang yang mungkin saja sedang mencoba untuk menikmati sejenak istirahatnya, tersentak lari sejauh mungkin untuk menyelamatkan harta, benda , dan nyawa mereka. Keselamatan diri dan sanak saudara merupakan hal yang terpenting. Keheningan, kenyamanan, dan kehangatan kota Yogyakarta hilang seketika oleh amukan awan panas. Kedukaan mendalam melanda jiwa warga masyarakat Yogyakarta, Indonesia dan bahkan masyarakat dunia. Namun demikian, warga masyarakat Yogyakarta percaya bahwa bencana ini bukanlah sekedar bencana yang ditimbulkan aibat adanya ketidakseimbangan dari alam, melainkan merupakan teguran dari sang kuasa. Kemudian lebih dari itu, masyarakat Yogyakarta yang masih kental dengan keperyaan tradisinya, menyebutkan bahwa letusan merapi merupakan peringatan dari sang penunggu merapi, yakni Ki Petruk.

Keyakinan ini mencermikan akan kesederahaan masyarakat yang masih mempercayai adanya mitos-mitos ataupun asumsi ‘sing mbalelo’ pada setiap tempat dan benda. Mulyono dalam bukunya Simbolisme dan Mistikisme Dalam Wayang (1983:28) menyatakan bahwa mitos merupakan cerita-cerita kuno yang dituturkan dengan bahasa indah dan isinya dianggap bertuah, berguna bagi kehidupan lahir dan batin serta dipercayai dan dijunjung tinggi oleh pendukungnya dari generasi satu ke generasi berikutnya. Biasanya mitos menceritaan perihal kejadian bumi, langit, nenek moyang, keagamaan, dan lain sebagainya.  Lebih lanjut Prof. Dr. C.A. van Peursen menyatakan bahwa mitos tidak hanya sekedar laporan dari peristiwa yang pernah terjadi, tetapi juga mengenai upacara-upacara tentang dunia gib, dewa bahkan mitos memberikan arah pada kelakuan manusia dan merupakan suatu pedoman untuk kebijaksanaan manusia. Mitos ini sendiri memberikan beberapa fungsi sebagai berikut:

a)        Memberikan kesadaran pada manusia bahwa dunia ini bersifat heterogen, yakni ada dunia yang bersifat mengandung  kekuatan gaib dan ada yang bersifat profane (biasa).

b)        Berusaha seolah menghadirkan kembali peristiwa-peristiwa yang dulu pernah terjadi sedemikian rupa sehingga mampu memberikan jaminan atau perlindungan di masa kini.

c)        Mitos yang bersifat “ilmiah filosofis” yakni menjelaskan tentang alam semesta, kosmologi, kosmogoni, yakni suatu cerita asal-usul tentang sifat dan terjadinya bumi dan langit. Termasuk di dalamnya theogoni, yakni suatu cerita mengenai terjadinya dewa-dewa.

Menurut Geertz (1983) dan Zoetmulder (2000) mengungkap bahwa dalam praktik orang Jawa, sering kali yang dicari bukanlah pengalaman teoritis, namun pengalaman yang memiliki arti bagi kehidupan mereka. Kemudian menurut Subagyo (1976) yang mengutip pendapat Koentjaraningrat bahwa mistikisme yang berkembang dalam kalangan masyarakat Jawa merupakan tanda protes dan kritik terhadap masa kini. Lebih jauh diungkapkan oleh De Jong, ini semua merupakan reasi atas kemerosotan nilai-nilai dalam system hidup masyarakat.

Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa peristiwa meletusnya merapi, dianggap sebagai peringatan dari Ki Petruk yang memperingatkan warga Yogyakarta, atas dsar kesalahan-kesalahan perilaku masyarakat yang telah mulai menyimpang dari nilai-nilai luhur yang disepkati dulu. Menurut warga sekitar dulu pada Ki Petruk pernah berjanji jika warga Yogyakarta melakukan kesalahan, ataupun sikap-sikap yang menyimpang yang dapat menyengsarakan warga masyarakat luas, maka Ki Petruk akan mengaih janji para petnggi pemerintahan. Dan hal tersebut diyakini telah terbukti dengan adanya letusan dahsyat merapi di tengah gegap gempita konflik-konflik local Yogyakarta, yakni meliputi pergolakan keistimewaan Yogyakarta.

Sumber

Mulyono, Sri.1983.Simbolisme dan Mistikisme Dalam Wayang.Jakarta: PT. Inti Idayu Press.

Soehadha, M.2008.Orang Jawa Memaknai Agama. Yogyakarta: Kreasi Wacana.


Responses

  1. kalo saya bilang si, itu bagian dari syirik😀
    no offense yah

    • syirik??? musrik mbok cup lah…heheh

  2. jika dalam diri manusia masih terdapat dua pemikiran yg kontradiktif antara masih percaya mitos dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan seperti halnya positifisme,,, lantas bagaimana dengan anda terhadap sesuatu yang erat kaitannya dengan mitos????

  3. itulah manusia, tak semuanya modern,hhe

  4. kadang dari mitos itu sendiri memberikan sugesti2 kepada masyarakat, sehingga menyebabkan suatu kejadian dalam mitos akan benar-benar terjadi,,,

  5. mitos = sugesti…
    seperti metode penyembuhan ala dukun.si dukun mengsugesti,mengatakan…bahwa semua penyakit ada obatnya…tapi sebenarnya obat tak bekerja sendiri,mesti ada keyakinan bahwa dia akan segera sembuh…then, hanya menggunakan media air didoain…terus…BUUHHH…semprotkan ke yang sakit…karena orang tersebut telah tersugesti…so dahulu banyak dari praktek penyembuhan ala dukun berhasil…
    kaitannya dengan dosa syirik…tergantung yang menyikapi.apa dia percaya dukunlah yang menyembuhkan,atau meyakini bahwa dukun hanya sebagai perantara…karena yang mampu menyembuhkan atau memberikan sakit hanya Tuhan YME…
    mitos jawa yang disebutkan diatas…apakah syirik atau tidak tergantung yang menyikapi…mungkin juga gejala2 yang sedang terjadi di alam merupakan perantara dari Tuhan YME.. ga da salahnya kita bertindak preventif…ga da salah juga kalo kita acuh.yang pasti,apa yang kita pilih pasti akan ada akibatnya….
    wuuahahahaha…ngomong uuuoooopppooooo jane…

    • sugesti secara tidak langsung akan menstimulus otak. inilah mengapa orang2 sering parno dengan hal2 berbau mitos. contoh menakut-nakuti. selain itu, kata om comte ini bagian dari metafisik perkembangan pikiran manusia…

  6. kadang masyarakat kita itu pola pikirnya masih tradisional padahal sudah hidup di jaman modern…
    kadang, orang yang sudah mengenyam pendidikan tinggipun ikut terpengaruh karena berbagai pemberitaan yang berbau mistis iu…..
    so…..gmana dunt??????????????

  7. knpa masyarakat skrg masih sering percaya sama mitos ya???

    • karena mitos merupakan bagian dari budaya kehidupan yang tidak pernah bisa dipisahkan dari pola pikir manusianya

  8. jika qta mengamati bencana merapi kmarin, brpa banyak mitos yg terjadii…
    molai dr mbah petruk, mninggalnya mbah marijan (posisi, arah, letak, dll) banyak mninggalkan mitos sndiri bg wargaa…
    knapa msyarakat jogja sarat dg mitos yah.??

  9. mitos memang masih sulit di hilangkan dari masyarakat kita…padahal udah modern tapi masih za da unsur mitos…hehe

  10. parah…. bencana dikaitkan dengan mistis…. benar – benar Teologis… Indonesiakan negara rawan bencana, jadi wajar kena bencana…. seharusnya masyarakat berpikir tuk mencari jalan tuk menanggulangi dan mengurusi dampaknya, bukan malah mengaitkannya… hadeh… parah…
    Keep Posting Mba Yun…
    Komentari juga Blogku : http://itsumonojinan.wordpress.com
    nih salah satu artikelku :
    http://itsumonojinan.wordpress.com/2010/12/23/janggalnya-penanganan-si-mafia-pajak-gayus/

    • hahahaah tp y bgitu tu kang adanya. skalipun kita dah modern, tp kita tidak pernah bisa ada pada fase positif sempurna. Comte sja pencetus paham positivis berubah haluan dengan memunculkan agama humanitasnya…
      y ora???

  11. ini juga artikel bagus Mba Yun :
    http://itsumonojinan.wordpress.com/2010/12/17/teori-kelas-karl-marx/

    ANDR1_PAKKETUA


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: